MAIYAH BERMAIN ,Sebuah Pengantar
oleh : Muh. Anang Prasetyo
Bertahan konservatif dalam budaya tradisi membuat manusia lenyap dari sejarah, tetapi menyediakan diri diseret oleh budaya globalisasi membuat manusia menjadi budak kebudayaan yang dipanglimai oleh kapitalisme industri
(Emha Ainun Nadjib:2005)
LANDASAN KONSEPTUAL
Dalam bentangan sejarah dan kebudayaan di negeri nusantara, kita disuguhi beraneka ragam kreasi seni budaya serta salah satu produknya berupa ragam permainan. Permainan atau dolanan istilah Jawa, jika dicermati lebih dalam dan seksama, mengandung filosofi dan ajaran hidup yang demikian agung. Bersifat alamiah, dan dalam beberapa hal bersifat transenden ilahiyah. Berdimensi ajaran komunitas dan sosial serta kemanfaatan riil untuk kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, dengan nilai agung dan transenden serta luhur warisan tradisional para leluhur tersebut, meskipun setelah ratusan tahun di jajah, dalam abad 21 tiba-tiba kita disodori budaya kapitalisme dan tata nilai (pandangan hidup/world view) globalisasi dengan salah satu produknya bernama demokrasi. Kita rasakan kita mengalami shock culture. Sebagaimana tesis Samuel Huntington, inilah sebenarnya benturan peradaban (class civilization) yang sesungguhnya. Mau tidak mau secara pelan bahkan disatu hal berjalan amat cepat, kita mengunyah ‘makanan’ serta ragam permainan produk global tersebut. Baik dalam politik, sosial, budaya, kesenian, ekonomi, dan semua bidang khususnya permainan.
Maka, dalam fase transisional tersebut memaksa kita mengatur strategi dan menata jarak yang tepat dan elegan. Dibutuhkan upaya cerdas pensiasatan, salah satunya melalui budaya dan permainan. Maka, menjaga eksistensi diri tanpa kehilangan karakter dan jati diri ke nusantara an merupakan kewajiban. Kemudian, secara sadar dan cerdas tanpa gagap ‘menerima’ budaya global tersebut dengan mengelaborasikan ke dalam struktur kebudayaan nusantara. Jangan menelan mentah-mentah atau sebaliknya menolak mateng-mateng.
Padahal dalam beberapa kasus, faktanya kita belum begitu lihai dan cerdas mengelaborasinya. Kita melihat demikian cepat dan derasnya banjir informasi ibarat air bah yang menggelontor akal kesadaran dan kesejatian bangsa nusantara ini. Betapa banyaknya ‘produk sampah’ yang ikut dimakan generasi muda sekarang. Budaya Miss-missan, game on line, misalnya untuk sekedar mencomot sebagai contoh. Apalagi permainan-permainan konsumtif, sekarang demikian membanjiri rak-rak toko mainan. Mulai dari Boneka Barbie, Naruto, dll.
Maka, dalam konteks ini kata-kata Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) di atas patut kita renungkan. Sekaligus, bagi pribadi penulis, hal tersebut menjadi landasan konseptual dalam keseluruhan buku ini. Arti lebih spesifiknya kurang lebih, jika kita hanya berkutat dengan nilai tradisi, permainan tradisional semata, tanpa berkreasi dengan kesadaran global saat ini, sama artinya ‘melenyapkan’ kita dari panggung sejarah kebudayaan , khususnya dalam permainan/dolanan anak . Sebaliknya jika kita hanya ‘bermain’ dengan permainan global berupa permainan berteknologi tinggi, semacam game on line, PS an dan lain sebagainya, sama artinya diperbudak oleh kapitalis-kapitalis industrial ‘pengeksploitasi kecerdasan’ anak bangsa dengan atas nama permainan.
Semangat berpijak di atas tanah sendiri dengan segala warisan luhur permainan lokal tradisonal, namun dengan tanggap dan antisipatif terhadap kebudayaan global merupakan kewajiban intelektual, moral dalam mengemban amanah sebagai manusia. Inilah nilai-nilai yang berusaha kita tawarkan dalam menghadapi arus hegemonik permainan dalam dunia pendidikan anak. Sehingga dalam buku Betengan ini sejatinya memadukan nilai tradisional yang dikaya kan dengan kreativitas tertentu, serta mencoba mengambil serpihan global permainan yang memungkinkan untuk disenyawakan (atau meminjam istilah sepak bola dinaturalisasikan).
Inilah kearifan dan semangat belajar yang sesungguhnya. Sepertinya, genetika bangsa ini memang demikian menghayati hakekat survivalitas dan berdaya tahan banting. Sekian lama dijajah, namun tidak mampu menghancurkan tata nilai dan peradaban kemanusiaan Indonesia. Mereka, para leluhur kita, dengan semangat keikhlasan dan kejuangannya, membuktikan diri mampu belajar dari apapun yang menghadangnya. Benarlah apa yang diakatakan oleh B.R Hergenhahn dan Matthew H. Olson (11:2009) bahwa, tidak ada organisme yang akan bertahan hidup lama jika dia tidak belajar tentang obyek lingkungan mana yang bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Organisme juga tak bisa bertahan hidup lama jika ia tidak belajar tentang obyek mana di dalam lingkungan yang berbahaya dan mana yang aman.
Melawan globalisasi tidak dengan puritanisme tradisional–lokal, melainkan dengan memijakkan kaki di tanah tradisi sambil menelan tawaran globalisasi untuk diolah dengan kepribadian mandiri
(Emha Ainun Nadjib 2005)
Sabtu, 16 Juli 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar